> Kerentanan yang Tak Terlihat: Meneliti Krisis Keamanan yang Membayangi dalam Teknologi Kartu Cerdas RFID

Berita

Kerentanan yang Tak Terlihat: Meneliti Krisis Keamanan yang Membayangi dalam Teknologi Kartu Cerdas RFID

2025-09-02 10:04:49

LONDON – Dari kunci akses kantor dan kartu pembayaran nirsentuh hingga tiket angkutan umum dan paspor modern, kartu pintar Radio-Frequency Identification (RFID) telah menyatu dengan mulus ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, semakin banyak pakar keamanan siber yang meningkatkan kewaspadaan, memperingatkan bahwa kenyamanan teknologi ini menyembunyikan risiko keamanan yang signifikan dan sering kali diremehkan.

Inti masalahnya terletak pada sifat nirkabel dari komunikasi RFID. Berbeda dengan kartu magnetic stripe tradisional yang harus digesek, kartu RFID dapat dibaca dari jarak dekat tanpa harus keluar dari dompet pemiliknya. Fitur ini, meskipun nyaman, membuka banyak vektor serangan bagi pelaku kejahatan.

“Persepsi masyarakat adalah bahwa kartu-kartu ini aman, namun kenyataannya jauh lebih kompleks,” jelas Dr. Alina Petrova, peneliti terkemuka dalam keamanan sistem tertanam di Global Institute of Cyber ​​Technology. “Banyak kartu RFID generasi pertama dan berbiaya rendah tidak memiliki enkripsi dasar. Mereka mengirimkan data statis dan tidak berubah. Ini berarti penyerang dengan pembaca yang murah dan siap pakai dapat dengan mudah “menelusuri” data kartu melalui saku atau tas dan mengkloningnya dengan sempurna tanpa sepengetahuan korban.”

Ancaman-ancaman ini lebih dari sekedar skimming. Serangan yang lebih canggih meliputi:

  • Menguping: Mencegah komunikasi nirkabel antara kartu dan pembaca.

  • Serangan Putar Ulang: Menangkap transmisi sah dari kartu dan memutarnya kembali nanti untuk mendapatkan akses tidak sah.

  • Manipulasi Data: Mengubah data yang tersimpan di kartu jika tidak diamankan dengan benar.

  • Pelacakan: Menggunakan pengidentifikasi unik kartu untuk melacak pergerakan seseorang tanpa persetujuan mereka.

Implikasinya sangat parah. Kartu akses yang dikloning dapat memberikan akses fisik ke fasilitas yang aman. Kartu pembayaran skim dapat menyebabkan penipuan finansial. Bahkan paspor elektronik modern, yang memiliki enkripsi kuat, terbukti memiliki kerentanan jika tidak terlindungi dengan baik saat ditutup.

Jalan Menuju Mitigasi

Industri ini tidak tinggal diam. Penerapan kartu RFID dengan keamanan tinggi, yang menggunakan protokol kriptografi canggih seperti enkripsi AES-128, sedang meningkat. Teknologi seperti Mutual Authentication, dimana kartu dan pembaca saling memverifikasi keabsahan satu sama lain sebelum mentransfer data, dan pertukaran Data Dinamis, dimana informasi yang dikirimkan berubah setiap kali transaksi, menjadi standar baru.

“Mengamankan RFID memerlukan pendekatan berlapis-lapis,” kata Michael Thorne, CTO SecurTech Solutions. “Ini bukan hanya tentang kartu itu sendiri. Ini tentang memastikan seluruh ekosistem—kartu, pembaca, dan sistem backend—dirancang dengan mempertimbangkan keamanan. Konsumen juga harus proaktif, menggunakan dompet atau selongsong pemblokiran RFID untuk menambah lapisan penting keamanan fisik."

Seiring dengan semakin terhubungnya dunia kita, pembicaraan seputar keamanan RFID beralih dari masalah teknis ke masalah utama keselamatan pribadi dan perusahaan. Meskipun teknologi ini menawarkan manfaat yang tidak dapat disangkal, memahami kerentanannya adalah langkah pertama dan paling penting dalam memitigasi risiko dan memastikan bahwa kenyamanan tidak mengorbankan keamanan.