> Penelitian Baru Mengungkap Kelemahan Kritis dalam Keamanan Kartu Cerdas RFID

Berita

Penelitian Baru Mengungkap Kelemahan Kritis dalam Keamanan Kartu Cerdas RFID

2025-12-02 09:24:38

Studi Terobosan Mengungkap Kerentanan pada Kartu Cerdas RFID yang Banyak Digunakan

Sebuah studi komprehensif baru dari Institute of Cybersecurity di Technion University telah menimbulkan kekhawatiran yang signifikan mengenai keamanan kartu pintar RFID (Radio-Frequency Identification), yang ada di mana-mana dalam kontrol akses, sistem pembayaran, dan transportasi umum.

Penelitian yang berjudul "Ketidakamanan Berlapis dari Implementasi RFID Modern" menunjukkan bahwa sebagian besar kartu pintar RFID yang saat ini digunakan bergantung pada protokol enkripsi yang sudah ketinggalan zaman atau diterapkan dengan lemah. Para peneliti mampu mengkloning, menguping, dan dalam beberapa kasus, sepenuhnya mengabaikan keamanan beberapa model kartu umum menggunakan perangkat keras yang tersedia dan terjangkau.

“Banyak organisasi dan konsumen berasumsi bahwa kartu-kartu ini pada dasarnya aman,” jelas Dr. Elena Vance, peneliti utama. “Temuan kami menunjukkan bahwa rasa aman yang salah tersebar luas. Kami berhasil menyadap komunikasi antara kartu dan pembaca dari jarak jauh, mengumpulkan pengidentifikasi unik, dan mengeksploitasi kelemahan kriptografi untuk membuat duplikat fungsional.”

Kerentanan berasal dari beberapa faktor: terus menggunakan protokol lama seperti MIFARE Classic, praktik manajemen kunci yang buruk oleh produsen dan pengguna akhir, dan sifat fisik komunikasi nirkabel, yang secara inheren rentan terhadap serangan skimming dan relay. Studi ini menyoroti bahwa meskipun ada kartu dengan keamanan tinggi (misalnya kartu yang menggunakan enkripsi AES modern), penghematan biaya sering kali mengarah pada penerapan teknologi yang lebih rendah.

Implikasinya sangat parah. Akses gedung yang tidak sah, pembayaran palsu, pencurian identitas, dan pelacakan pergerakan individu menjadi hal yang mungkin dilakukan oleh pelaku kejahatan. Infrastruktur penting, kantor perusahaan, dan kunci kamar hotel yang hanya bergantung pada kartu-kartu rentan ini sangat berisiko.

Menanggapi temuan ini, para pakar keamanan siber mendesak adanya pendekatan keamanan berlapis. Rekomendasinya meliputi:

  • Penghapusan secara bertahap kartu RFID lama yang mendukung alternatif modern dan kuat secara kriptografis.

  • Menerapkan otentikasi dua faktor (misalnya, kartu plus PIN atau biometrik).

  • Reguler audit keamanan dan pengujian penetrasi sistem akses fisik.

  • Kesadaran pengguna tentang risiko skimming kartu di ruang publik.

Produsen kartu besar telah mengakui laporan tersebut, dan beberapa di antaranya berkomitmen untuk mempercepat penghentian lini teknologi lama. Badan standar juga berada di bawah tekanan untuk mewajibkan proses sertifikasi yang lebih ketat.

“Keamanan kartu pintar RFID bukanlah fitur statis; ini adalah perlombaan senjata yang sedang berlangsung,” simpul Dr. Vance. “Penelitian ini adalah sebuah peringatan. Saat kita semakin mengintegrasikan teknologi ini ke dalam kehidupan sehari-hari dan sistem penting kita, kita harus berinvestasi pada ketahanannya dengan urgensi yang sama seperti yang kita lakukan pada jaringan digital kita.”

Laporan teknis lengkap akan dipresentasikan pada Konferensi Internasional tentang Perangkat Keras Kriptografi dan Sistem Tertanam (CHES) mendatang.